Beranda | Artikel
Bagaimana Nabi Mengatur Makan di Bulan Ramadan?
9 jam lalu

Sunah Nabi ﷺ begitu lengkap dari urusan besar hingga urusan printilan kecil yang mungkin kita tidak perhatikan. Termasuk riwayat yang sampai kepada kita adalah bagaimana Nabi ﷺ mengatur pola makannya, khususnya di bulan Ramadan. Tentu ini adalah permasalahan kebiasaan dan keseharian yang tidak mutlak menjadi panduan ibadah yang harus diikuti. Namun, setidaknya kita bisa mengambil faidah dari perbuatan Nabi ﷺ dan menjadi peluang baru untuk kita mengikuti sunah Nabi ﷺ.

Gaya makan Nabi ﷺ sehari semalam

Nabi ﷺ memulai harinya dengan meminum air putih dan terkadang dicampur dengan madu. Lalu sarapan dengan tujuh butir kurma. Nabi ﷺ kemudian melanjutkan aktivitas hariannya hingga waktu Asar tiba. Setelah melaksanakan salat Asar, Nabi ﷺ biasanya memakan roti gandum dengan minyak zaitun. Terdapat riwayat pula Nabi ﷺ memakan daging –beliau senang sekali dengan daging– atau memenuhi makan siang dengan kurma dan madu. Di malam hari, Nabi ﷺ akan makan malam setelah salat Isya dan witir dengan memakan yoghurt atau olahan susu.[1]

Dalam riwayat yang menunjukkan keadaan di bulan Ramadan, Nabi ﷺ makan sedikit ketika memasuki waktu Magrib, berupa kurma dan air. Lalu, Nabi ﷺ akan makan lagi sebelum mengimami para sahabat dalam salat tarawih atau beliau salat sendiri di rumahnya.

Kaidah dari Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zaadul Ma’ad, “Makanlah sesuai kebiasaan penduduk, jangan membatasi dengan satu jenis makanan saja.”

فقصرها على نوع واحد دائما – ولو أنه أفضل الأغذية – خطر مضر . بل كان يأكل ما جرت عادة أهل بلده

“Membatasi diri memakan satu jenis makanan saja, meskipun itu makanan yang terbaik, berisiko membahayakan. Baginda Nabi ﷺ memakan apa yang biasa dimakan oleh penduduk setempat.” (Zaadul Ma’ad, 4: 199)[2]

Dari apa yang dijelaskan oleh penulis dan Ibnul Qayyim, kita bisa ambil kesimpulan:

  1. Makanan Nabi ﷺ adalah makanan yang lazim di kaumnya, bukan makanan khusus atau mewah.
  2. Nabi ﷺ makan beragam jenis makanan, tetapi tidak terlalu banyak pula jenisnya, biasanya hanya 2-3 jenis saja.
  3. Nabi ﷺ tidak makan dengan porsi yang teramat besar, namun secukupnya.

Budaya makan Nabi ﷺ adalah selalu memenuhi kebutuhan gizi:

  1. Karbohidrat = roti;
  2. Protein = daging;
  3. Vitamin = buah;
  4. Gula energi cepat = buah dan madu;
  5. Serat = buah;
  6. Mineral kompleks = buah, madu, dan minyak zaitun;
  7. Perasa makanan = cuka;
  8. Nabi ﷺ juga makan manisan, tetapi porsinya tidak besar, serta peruntukan aktivitasnya tinggi.

Gaya sahur Nabi ﷺ

Terkadang, beliau makan sahur bersama beberapa sahabatnya. Diriwayatkan secara sahih bahwa beliau dan Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu makan sahur. Setelah selesai, beliau akan salat Subuh. Waktu antara sahur dan salatnya hanya cukup untuk membaca lima puluh ayat Al-Quran. Nabi ﷺ ketika sahur biasanya memakan kurma, khususnya tamr.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

نِعْمَ سَحورُ المؤمِنِ التَّمرُ

“Sebaik-baik makanan sahur adalah tamr (kurma kering)” (HR. Abu Daud no. 2345, disahihkan Al-Albani dalam Shahih Abu Daud)

Ada juga keadaan Nabi Muhammad ﷺ makan sahur, kemudian salat dua rekaat ringan salat sunah, dan menunggu di rumahnya sampai Bilal meminta izin untuk mengumandangkan azan. Kemudian Nabi Muhammad ﷺ meninggalkan rumah istri-istrinya, karena letaknya berdekatan dengan masjid, dan memimpin salat Subuh.

Baca juga: Bagaimana Rasulullah di Bulan Ramadan?

Apa yang dimakan ketika berbuka?

Rasulullah ﷺ menganjurkan kepada umatnya agar berbuka puasa dengan urutan:

  1. Ruthab (Kurma masak berwarna coklat muda masih basah);
  2. Tamr (Kurma matang yang sudah kering);
  3. Air.

Hal ini berdasarkan dalil yang sahih, yaitu,

سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ: كَانَ رَسُولُ اللّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلّـِيَ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ، فَعَلَى تَمَرَاتٍ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

Tsabit Al-Bunani mendengar dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulullah ﷺ berbuka dengan beberapa ruthab sebelum melakukan salat. Jika tidak ada ruthab, maka dengan beberapa tamr; jika itu tidak ada, maka beliau meminum air beberapa kali tegukan.” (HR. Abu Dawud no. 2356)

Hadis-hadis di atas mengandung beberapa pelajaran berharga, antara lain:

  1. Dianjurkannya untuk berbuka puasa dengan ruthab (kurma basah); apabila tidak ada, maka bisa dengan tamr (kurma kering); dan jika tidak ada pula, maka minumlah air.
  2. Rasulullah ﷺ berbuka dengan beberapa buah kurma sebelum melaksanakan salat. Hal ini merupakan strategi pengaturan yang sangat teliti, karena puasa itu mengosongkan perut dari makanan sehingga hati tidak mendapatkan suplai makanan dari perut dan tidak dapat mengirimnya ke seluruh sel tubuh. Padahal rasa manis merupakan sesuatu yang sangat cepat meresap dan paling disukai hati, apalagi kalau dalam keadaan basah. Setelah itu, hati pun memproses dan melumatnya serta mengirim zat yang dihasilkannya ke seluruh anggota tubuh dan otak.
  3. Air adalah pembersih bagi usus manusia dan itulah yang berlaku alamiyah hingga saat ini.

Keutamaan kurma dan air

Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan penjelasan tentang hadis di atas. Beliau berkata, “Cara Nabi ﷺ yang berbuka puasa dengan menyantap kurma atau air mengandung hikmah yang sangat mendalam sekali:

  1. Karena saat berpuasa lambung kosong dari makanan apapun, sehingga tidak ada sesuatu yang amat sesuai untuk liver (hati) yang dapat disuplai langsung ke seluruh organ tubuh serta langsung menjadi energi, selain kurma dan air.
  2. Karbohidrat yang ada dalam kurma lebih mudah sampai ke liver dan lebih cocok dengan kondisi organ tersebut.
  3. Terutama sekali kurma masak yang masih segar. Liver akan lebih mudah menerimanya sehingga amat berguna bagi organ ini sekaligus juga dapat langsung diproses menjadi energi.
  4. Kalau tidak ada kurma basah, kurma kering pun baik, karena mempunyai kandungan unsur gula yang tinggi pula.
  5. Bila tidak ada juga, cukup beberapa teguk air untuk mendinginkan panasnya lambung akibat puasa sehingga dapat siap menerima makanan sesudah itu.”

Dalam Thibbun Nabawi, Ibnul Qayyim rahimahullah juga menjelaskan,

وهذا من كمال شفقته -صلى الله عليه وسلم- على أمته ونصحه، فإنَّ التمر مقوٍّ للكبد ملين للطبع، وهو من أكثر الثمار تغذية للبدن، وأكله على الريق يقتل الدود، فهو فاكهة، وغذاء، ودواء، وحلوى

“Ini adalah salah satu kesempurnaan kasih sayang Nabi ﷺ dan termasuk bentuk semangat memberikan kebaikan kepada umatnya, karena kurma menguatkan hati dan melancarkan buang air besar, dan termasuk buah-buahan yang paling menyehatkan tubuh, dan memakannya saat perut kosong membunuh cacing. Jadi, kurma adalah buah, makanan, obat, dan manisan.” (Thibbun Nabawi, hal. 218)[3]

Kedokteran modern membuktikan bahwa kurma mengandung serat dan gula fruktosa yang menjadi sumber energi sekaligus pengatur kadar gula dalam darah. Kurma juga bermanfaat dalam memberikan ledakan energi, tetapi juga terkontrol. Serat dalam kurma cukup untuk menjaga pencernaan bekerja dengan baik di musim Ramadan yang waktu makannya bergeser dari pola harian. Keberadaan mineral dalam kurma berperan penting dalam menjaga kesehatan organ dalam.

Sabda beliau,

فإن لم يجد، فليفطر على ماء-: فإنَّه طهور

“Jika tidak mendapatkannya, maka berbukalah dengan air, karena sesungguhnya air itu thahur.”

Menurut Syekh Abdullah Bassam, kata thahur di sini—wallahu a’lam—yang dimaksud adalah bahwa air itu membersihkan lambung dan usus. Dan hal ini sekarang merupakan fakta ilmiah dalam dunia kedokteran. Sesungguhnya para dokter menganjurkan dan menasihati untuk minum air saat perut kosong, dan mereka mengatakan bahwa air itu membersihkan lambung dan usus serta menyeimbangkan kondisi (tabiat) tubuh manusia.” (Taudhihul Ahkam Syarh Bulughil Maram, 3: 477)[4]

Tamr (kurma kering) untuk sahur dan ruthab (kurma basah) untuk berbuka

Dalam riwayat yang telah disebutkan, terdapat perbedaan jenis kurma yang dikonsumsi Nabi ﷺ ketika sahur dan berbuka. Tamr atau kurma kering diutamakan dikonsumsi ketika sahur dan ruthab atau kurma basah diutamakan ketika berbuka. Salah satu faidah yang kami catat dari Ustadz Abdurrahman Dani hafizhahullah adalah tamr atau kurma kering lebih tinggi kadar gulanya sehingga dapat memberikan energi yang lebih mencukupi untuk hari berpuasa dibandingkan ruthab.[5] Adapun ruthab disunahkan di waktu berbuka karena sifatnya yang lebih mudah dicerna dan sehingga energinya lebih cepat didistribusikan oleh tubuh.

Kurma kering mengandung kalori gula yang lebih tinggi dibandingkan kurma basah. Selain itu, ia mengandung serat yang lebih tinggi sehingga penyaluran energinya lebih terkontrol untuk diserap tubuh. Sedangkan kurma basah memiliki kadar glukosa tinggi dibanding fruktosa, dimana glukosa lebih cepat bisa digunakan dibandingkan fruktosa. Wallahu a’lam, ini penjelasan dari kalangan ahli kesehatan klasik yang kami selaraskan dengan kedokteran modern.[6]

Makan secukupnya

Salah satu adab makan yang sering terlupa ketika Ramadan adalah makan secukupnya. Beragam menu takjil dari kolak manis sampai risol mayo membuat air liur bergelegak di mulut. Padahal, esensi berpuasa adalah menahan nafsu duniawi. Inilah yang membuat badan menjadi lemah untuk beribadah di bulan Ramadan. Perhatikanlah adab makan Nabi ﷺ berikut,

أنه لم يكن يملأ بطنه بالطعام والشراب إذا أكل وشرب ويدل عليه قوله صلى الله عليه وسلم: ما ملأ آدمي وعاء شراً من بطن، بحسب ابن آدم أكلات يقمن صلبه، فإن كان لا محالة، فثلث لطعامه، وثلث لشرابه، وثلث لنفسه… رواه أحمد والترمذي وابن ماجه

Ia tidak mengisi perutnya dengan makanan dan minuman ketika makan dan minum, dan ini ditunjukkan oleh sabda Nabi ﷺ, “Tidak ada manusia yang mengisi bejana lebih buruk daripada perutnya. Beberapa suapan sudah cukup bagi anak Adam untuk membuatnya tetap tegak. Jika ia harus makan lebih banyak, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk napasnya…” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Beliau ﷺ diriwayatkan biasa makan sahur bersama salah satu istrinya, dengan sedikit makanan, mungkin beberapa kurma atau sedikit lebih banyak, beserta air. Bahkan ketika berbuka pun, beliau hanya mencukupkan dengan kurma, baru memakan beberapa varian makanan yang tersedia. Beliau tidak mutlak membatasi diri, terkadang beliau makan makanan yang enak seperti daging pada bagian terenaknya dan makan manisan.[7] Namun, Nabi ﷺ tidak mengonsumsinya dalam jumlah berlebih, bahkan jarang sekali beliau mencapai kenyang.

Baca juga: Apa Amalan Terbaik di Bulan Ramadan?

***

Penulis: Glenshah Fauzi

Artikel Muslim.or.id

 

Referensi:

[1] https://www.islamweb.net/ar/fatwa/133457/%D9%87%D8%AF%D9%8A-%D8%B1%D8%B3%D9%88%D9%84-%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87-%D8%B5%D9%84%D9%89-%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87-%D8%B9%D9%84%D9%8A%D9%87-%D9%88%D8%B3%D9%84%D9%85-%D9%81%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D8%BA%D8%B0%D8%A7%D8%A1

[2] https://www.islamweb.net/ar/library/content/127/807/%D9%81%D8%B5%D9%84-%D9%87%D8%AF%D9%8A%D9%87-%D8%B5%D9%84%D9%89-%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87-%D8%B9%D9%84%D9%8A%D9%87-%D9%88%D8%B3%D9%84%D9%85-%D9%81%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%B7%D8%B9%D9%85-%D9%88%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%B4%D8%B1%D8%A8 Ini adalah bagian Zaadul Ma’ad yang dikumpulkan ke dalam Kitab Thibbun Nabawi Ibnul Qayyim rahimahullah.

[3] https://shamela.ws/book/23649/216

[4] https://shamela.ws/book/13604/1648#p1

[5] https://youtu.be/ch-9w9KQNH4?si=np5agAVH_OpxtTk5

[6] https://hellosehat.com/nutrisi/fakta-gizi/nutrisi-kurma-kering-vs-kurma-segar/

[7] Shaidul Khatir no. 787.


Artikel asli: https://muslim.or.id/112362-bagaimana-nabi-mengatur-makan-di-bulan-ramadan.html